Bela Ahmadiyah Demi UUD 1945
Read More......
LIHATLAH bahwa segala sesuatunya akan selalu mudah selamat mencoba!

Cerpen Isbedy Stiawan ZS
”MAMA mau bercerita untukku?” ”Tentang apa?” ”Soal cin… ta…,” ragu-ragu.
Pertanyaan Rosa sudah berulang dia lontarkan. Tetapi, ya tetapi, selalu saja Mama menjawab dengan pertanyaan pula. Sebel deh, batin Rosa. Sebenarnya Rosa ingin sekali mendengar pandangan dan sikap Mama tentang cinta. Ia menginginkan Mama tak perlu malu lagi bercerita soal cinta. Cinta bukan lagi tabu dibicarakan, diungkapkan, diceritakan. Apalagi usia Rosa kini sudah 16 tahun lebih 16 hari.
Mama menatap nanap pada Rosa. Rosa membalas tatapan Mama. Dalam hatinya ia tak hendak menunduk ditujah oleh pandangan Mama yang tampak menyelidik itu. Saat ia harus ”melawan” pandangan Mama. Tidak seperti sudah-sudah, mendengar orang yang tua usia darinya bicara tentang cinta, ia malu-malu. Seakan tabu.
”Mama mau bercerita untukku?”
”Tentang apa?”
”Ya, seperti kataku tadi. Cinta.”
”Untuk apa? Pentingnya apa buatmu? Apa manfaatnya kalaupun kau tahu tentang cinta?” Mama kembali mengumbar pertanyaan. Bertubi-tubi.
Ah, Mama. Rosa menggumam. ”Jelas ada dong, Ma. Kalau tak ada manfaatnya, kalau tak penting. Untuk apa Rosa tanya sama Mama?”
Hmmm. Mama diam. Untuk beberapa kejap lamanya. Zaman sudah sangat jauh berbeda dibanding sewaktu ia masih remaja dulu. Kini, anak seusia 16 tahun seperti Rosa, ingin mengetahui soal cinta. Langsung dari Mamanya.
”Tuh, kan Mama, selalu saja begitu…” Rosa agak merengek.
”Ya, habis pertanyaanmu aneh sih?” kata Mama yang selalu akhir ucapannya ditekankan dengan pertanyaan.
”Lo, memangnya kenapa Mama? Apa yang aneh, pertanyaan Rosa jelas kok.”
”Jelas menurutmu. Tetapi, menurut Mama kan aneh,” jawab Mama. Mama bayangkan sudah begitu majukah anak remaja sekarang? Sudah begitu beranikah remaja sekarang, seingga ia harus mempertanyakan soal cinta. Langsung pada orang tuanya?
Cinta. Mama sulit merumuskan, menuliskan, mengucapkannya dengan runtut dan rinci. Apa itu cinta? Dari banyak buku atau tulisan yang pernah Mama baca menyoal cinta, beragam pendapat jadinya. Semuanya berbeda. Semua bisa saja benar, bisa saja tidak begitu tepat.
Cinta dalam pengertian yang mana yang diinginkan Rosa? Cinta antarlain jenis: perempuan dan lelaki? Cinta dalam makna luas? Ah, Mama jadi dibuat pusing. Ya. Seandainya Papa masih bersama mereka, mungkin pertanyaan ini bisa diberitakan padanya dan Papa yang mungkin bisa menjawab.
Cuma Papa sudah tidak bersama mereka lagi. Mama bercerai dengan Papa sewaktu Rosa baru masuk kelas 1 SLTP. Papa diam-diam menikah lagi, dan Mama tak mau hidup dimadu. Akhirnya Mama minta dicerai, dan Rosa dibawa Mama. Sampai kini Mama tak menikah lagi. Hidup bersama Rosa. Untung Mama bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) bergolongan gaji cukup bagus.
Lalu, cinta dalam pengertian yang mana? ”Ah, Mama sulit menjawabnya, Rosa. Kalau Mama bisa, pasti akan Mama jawab. Lagi pula belum waktunya kamu bicar soal cinta…”
”Ah, Mama kuno. Kuno…,” Rosa merajuk.
”Apa orang yang tahu soal cinta, berarti modern? Apa orang yang hidupnya bebas adalah modern, sedang yang hidup dalam batas kewajaran kuno?” Mama bertanya.
Rosa gelagapan. Ia tak mengira pertanyaan Mama seperti itu. Tanpa menjawab, ia melengos, melangkah, dan masuk ke kamar tidurnya.
***
SEJAK tujuh bulan terakhir ini, Rosa berubah amat drastis. Mama memperhatikan perubahan pada diri Rosa. Gadis itu kerap berlama-lama di depan cermin. Memoles bibirnya dengan lipstik, menebalkan bulu alis dengan pinsil hitam, pakai wangi-wangian. Mama juga sempat mendapatkan celana panjang dan baju di dalam tas sekolahnya. Yang paling mencolok, Rosa punya handphone. Soal benda yang stau ini, Mama merasa tidak membelikannya. Dan, ketika Mama tanya dari mana ia dapat handphone itu, Rosa menjawab enteng: ”Uang tabungan Rosa dari jajan yang dikasih Mama…”
Rosa tumbuh dengan tubuh amat subur. Sangat pas dengan wajahnya yang memang cantik. Seperti Mama waktu remaja dulu. Yang membedakan Rosa dengan Mama semasa remaja, Mama mendapat perhatian dan kasih sayang dari ayah. Ah, Rosa memiliki tubuh sebagai gadis remaja yang tidak memeroleh sentuhan itu dari Papa. Ia tumbuh menjadi remaja tanpa mendengar dan belaian tangan penuh kasih sayang dari sang Papa. Ia tumbuh dalam dekapan Mama. Ya, Mama. Mama yang supersibuk oleh pekerjaan-pekerjaan di kantornya. Sibuk sebagai kepala bagian di tempat kerjanya.
Dan, Rosa kadang hanya berdiskusi dengan Bik Iyah, pembantu yang bekerja di rumahnya sejak ia berusia enam tahun. Bi Iyah yang tak bisa diajak ngomong soal banyak hal. Tahunya hanya memanggil ”Oca sini, yuk emam.” Atau hal-hal yang sangat sepele.
Setelah kelas satu SMU, Rosa baru melihat dunia ini begitu luas. Seperti burung yang baru bisa terbang, ia mengepakkan sayapnya ke mana ia mau. Sayapnya mengepak bebas. Dan kembali ke sarang, ketika matahari terkadang telah tergelincir di Barat. Di rumah ia tak mendapatkan Mama menyambutnya. Mama akan kembali setelah jam 20.00. Lalu makan, lalu mandi air hangat, lalu bekerja lagi. Atau kalau kelelahan amat sangat, ia langsung menuju pembaringannya. Terlelap.
Padahal, Rosa ingin sekali mendapat sapaan dari Mama. Pertanyaan, misalnya, soal pelajarannya di sekolah. Soal keperluan apa yang diperlukan Rosa. Pendek kata, soal apa saja. Bahkan soal yang kadang sangat sepele dan ringan. Rosa ingin sekali itu. Bukan sapaan Bik Iyah yang cuma basa-basi terdengar di telanganya. Tak lebih pertanyaan seorang pekerja.
Kalau kini Rosa bertanya soal cinta, sepantasnyakah itu? Apakah pertanyaan itu hanya ingin menjebak Mama? Mama selalu berpikir egois. Mama pasti tahu tentang cinta, Rosa membatin, hanya Mama tak mau menceritakan. Mama seperti takut kalau pertanyaan itu akan mengusik perkawinannya. Ah, Mama. Ah…
Ceritakan padaku soal cinta, Mama. Soal kasih sayang. Apakah cinta, apakah kasih sayang itu? Apakah cinta itu seperti yang dilakukan Om Indra selama ini pada Rosa? Membelikan handphone, mengajak jalan-jalan ke pantai, ke bungalow, ke supermarket, makan di restoran mewah, masuk ke hotel, membelikan pakaian bagus-bagus dan berharga mahal?
Apakah kasih sayang itu, seperti ditunjukkan Om Indra di atas sedan mewahnya dengan membelai-belai rambutnya? Mencurahkan perhatian yang amat lebih padanya? Menjemput di ujung jalan setiap ia pulang sekolah, untuk kemudian membawanya jalan-jalan sepanjang siang hingga matahari tergelincir? Menelepon Rosa ke telepon genggamnya setiap hendak tidur setiap malam?
Sampai suatu kesempatan, Mama menjelaskan tentang cinta. Kata Mama, cinta adalah ketika seseorang memberikan sesuatu atau lebih kepada orang lain tanpa pamrih. Cinta adalah pengorbanan yang tulus, tiada harap apa-apa dari perbuatan itu. Cinta adalah sesuat yang memberi dan menerima dengan didasari oleh keikhlasan. ”Jadi, cinta itu keluar dari hati nurani yang suci,” kata Mama.
Sedangkan kasih sayang? ”Mama kira hampir sama, mungkin hanya bentuk atau wujudnya saja yang boleh saja berbeda. Tetapi, cukuplah itu saja, cerita tentang cinta dari Mama. Sebab, Mama tak banyak tahu, Mama bukan seorang pencerita soal cinta atau kasih sayang. Mama dan Papa sendiri gagal membangun dan menjaga cinta,” kata Mama pelan, pelan sekali.
Lalu, apakah hubungannya dengan Om Indra selama ini, bisa dikatakan cinta? Bisa diartikan kasih sayang? Om Indra terlalu banyak berkorban pada Rosa, dan tidak meminta balasan apa-apa. Kalau ia mau diajak ke berbagai tempat itu, karena senang dan karena butuh cinta dan kasih sayang itu.
Kalau Rosa kini sulit merumuskan soal cinta dan kasih sayang itu, karena cinta di zaman serbamodern ini seakan menjadi abu-abu. Kekerasan ada di mana-mana. Pembantaian terjadi hampir setiap hari. Masyarakat sipil tewas ditembak oleh tentara. Rakyat miskin makin bertambah setiap detik, sementara para pejabat asyik menyantap dari kekayaannya.
Sekejap kemudian, telepon genggamnya yang ada di dalam celana panjangnya bergetar. Ia ambil dan membaca tulisan di layar: SMS dari Om Indra, ”Om udah nunggu nih di tempat biasa, jadi kan sayang?”
Rosa memandang Mama. Di mata Mama ia seperti membaca bahwa Mama mencurigainya. ”Mau ke mana?”
”Belajar….”
”Kenapa tak di rumah saja?”
ìBete, Ma…”
Segera mengambil tas. Mengecup pipi Mama, kanan dan kiri. Melambai. Bagai burung, ia kepakkan sayapnya begitu berlalu dari ambang pintu. Memburu Om Indra yang tengah menanti. Belajar tentang cinta…*
Lampung, November 2002
copy from http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2003/0830/bud1.html
Ada sembilan kewajiban yang harus diemban umat Islam saat ini, dimana pun mereka berada, yaitu :
1. Memproklamirkan jihad untuk membebaskan Al-Aqsha dan melindunginya dari para pengganggunya. Hal ini sudah disepakati oleh seluruh fuqoha’ (ahli fiqh) Islam. Mereka telah menetapkan, bahwa barang siapa yang menjajah sejengkal tanah dari kaum muslimin, maka hukumnya menjadi fardhhu ain bagi seluruh umat Islam untuk membebaskannya. Seorang perempuan boleh keluar tanpa izin dari suaminya, seorang budak boleh pergi tanpa izin dari majikanya, seorang anak boleh berangkat tanpa izin orang tuanya. Kalaupun Al-Aqsha telah lama dijajah, tetapi kewajiban ini belum lepas dari pundak setiap muslim. Mereka wajib membebaskanya sebelum dihancurkan oleh yahudi dan digantinya dengan Haikal Sinagog buatan mereka.
2. Mengalirkan darah dan mengorbankan nyawa demi mejaga Al-aqsha dari kehancuran. Ini suatu keharusan, karena sesuatu yang diambil dengan darah maka harus dikembalikan dengan darah. Karena sesungguhnya amalan yang paling Allah cintai adalah mengalirnya setetes darah dalam jihad fi sabilillah. Dalam salah satu riawayt diterangkan, Allah sangat kagum bahkan tertawa ketika melihat seseorang menceburkan dirinya dalam medan perang. Sementara teman-temanya pada mundur, kemudian ia terbunuh oleh musuh.
3. Memberikan hartanya untuk modal Jihad Fi Sabilillah di Palestina, di antaranya untuk melindungi Masjid Al-Mubarak. Dana ini diperlukan untuk melakukan renovasi, memeliharanya dari kerusakan, menggaji para pegawainya dan memberikan santunan bagi orang yang sukarela memelihara Al-Aqsha. memberikan bantuan bagi para keluarga yang bekerja di Al-Aqsha. Di samping itu, dana tersebut dapat digunakan untuk melakukan propaganda dan informasi bagi masyarakat umum.
4. Menyisihkan waktu untuk sesekali mengunjungi Al-Aqsha bagi yang tinggal dekat dengannya. Sebagaimana sabda Nabi salallah alaihi wasallam, “setiap mayit terhenti amal ibadahnya kecuali orang yang berjuang di jalan Allah”
5. Memanjatkan doa dengan segenap ketundukan dan pengharapan untuk perlindungan Al Aqsha dan mengajak kaum muslimin yang ada di barat dan timur untuk menjaga dan melindungi Al-Aqsha dari setiap penodaan. “Doa adalah senjata orang mukmin.”
6. Mejadikan Tema Al Qasha sebagai tema sentral umat Islam, dalam setiap kesempatan dan tempat; dalam seminar, kajian, ceramah, tabligh akbar, khutbah Jum’at dan lainnya dengan menjelaskan urgensinya, keutamaanya. Hingga al-Aqsha menjadi topic pembicaraan di setiap majelis, dijelaskan di setiap mimbar.
7. Menggunakan sarana jabatan, kedudukan public dan ketokohan untuk melindungi al-Aqsha, dengan melakukan lobi-lobi terhadap sentral pengambilan kebijakan agar memihak pada pembebasan Al Aqsha. Sampai Al Aqsha tersenyum kembali.
8. Menulis tentang al-Aqsha bagi yang biasa berdakwah lewat tulisan dengan menjelaskan sejarahnya, tempat-tempat bersejarah, kewajiban membelanya. Memaparkan kewajiban umat terhadap al-Aqsha, menyerbarkan tulisan tersebut agar al-Aqsha menjadi pembicaraan di tingkat dunia. Al-Aqsha adalah warisan dunia, tidak boleh diganggu gugat apalagi dihancurkan. Dan agar para pemikir di seluruh dunia yang masih memiliki hati nurani melakukan pembelaan terhadap al-Aqsha dan menjaga kehormatannya.
9. Berziarah ke Masjidil Aqsha, sebagaimana sabda Rasulallah sallallah alaihi wasalam, “Tidak disyariatkan bepergian kecuali bagi tiga masjid, Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjid al-Aqsha.” Tentunya mempertimbangkan sisi pemasukan devisa untuk rakyat Palestina bukan justru menguntungkan Israil.
Dengan melakukan salah satu dari kesembilan kewajiban tadi, sumat Islam punya alasan di depan Allah swt ketika ditanya tentang pertanggung jawaban mereka terhadap al-Aqsha. Tanpa melakukan apapun dari kesembilan tadi, maka tidak ada alasan yang dapat diterima di sisis-Nya. Ia tidak akan dihiraukan oleh Allah swt. Semoga Allah menolong kita semua.عن أنس بن مالك ـ رضي الله عنه ـ قال : قال النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ : ” لا يجد أحد حلاوة الإيمان ، حتى يحب المرء لا يحبه إلا لله ، وحتى أن يقذف في النار أحب إليه من أن يرجع إلى الكفر بعد إذ أنقذه الله ، وحتى يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ” . رواه البخاري .
Dari Anas bin Malik ra berkata: Nabi Muhammad saw bersabda: “Seseorang tidak akan pernah mendapatkan manisnya iman sehingga ia mencintai seseorang, tidak mencintainya kecuali karena Allah; sehingga ia dilemparkan ke dalam api lebih ia sukai daripada kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya; dan sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya.” Imam Al Bukhari.
Penjelasan:
باب : الحب في الله : Mencintai karena Allah, tidak bercampur aduk dengan riya dan nafsu.
ولا يجد أحد حلاوة الإيمان : Seseorang tidak akan mendapatkan manisnya iman. Iman diserupakan dengan madu, karena keduanya memiliki kesamaan; Manis. Iman yang benar dalam hati akan mewujudkan rasa manis layaknya madu.
وحتى يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ” : Sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada selainnya.
محبة الله : إرادة طاعته ، ومحبة رسوله : متابعته : Mencintai Allah adalah dengan mentaati-Nya, sedangkan mencintai Rasulullah adalah dengan mengikutinya.
Cinta alami tidak masuk dalam bab ikhtiar (pilihan), maka yang dimaksudkan adalah cinta ‘aqli (logis) yaitu mendahulukan apa yang dikehendaki akal, dan yang menjadi pilihannya, meskipun bertentangan dengan hawa nafsu. Seperti orang sakit yang minum obat, ia mengambil dengan pilihannya, karena mengharapkan kesembuhan.
Penggunaan dhamir (kata ganti) pada kalimat سواهما selain keduanya, menunjukkan satu kesatuan.
Karena pernah ada seorang khatib (penceramah) yang mentatsniyahkan dhamir dalam ucapannya:
ومن عصاهما فقد غوى “Dan barang siapa yang mendurhakai keduanya maka ia telah tersesat.” Seketika Rasulullah saw. menyuruhnya untuk menggunakan dhamir mufrad yaitu dengan mengucapkan:
من عصى الله فقد غوى “Barang siapa yang mendurhakai Allah maka ia tersesat. Dipisah,
من عصى الرسول فقد غوى “Dan barang siapa yang mendurhakai Rasulullah maka ia tersesat.”
Penggabungan di sini menunjukkan bahwa yang diperhitungkan adalah kumpulan dua cinta. Berbeda dengan ungkapan khatib tadi, masing-masing maksiat berdiri sendiri.
Dari hadits ini dapat diambil pelajaran:
Archimedes dan Newton tak akan mengerti Medan magnet
yang berinduksi di antara kita
Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E=mc2
Ah tak sebanding dengan momen cintaku
Pertama kali bayangmu jatuh tepat di fokus hatiku
Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa
maksimum
Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa
Cintaku lebih besar dari bilangan avogadro…
Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto saat
aphelium
Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan
hatiku
Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih
Bagai kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak
terbatas
Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi
Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh
tetapan
gaya
Energi kinetik cintaku = -mv~
Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi
hukum kekekalan di antara kita
Lihat hukum cinta kita
Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu
Menjadikan cinta kita sebagai titik ekuilibrium yang
sempurna
Dengan inersia tak terhingga
Takkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya
Inilah resultan momentum cinta kita…
Bahwa orang yang berimanan akan dianugerhakan Tuhan ketabahan dan kekuatan hati dalam menghadapi setiap kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi dalam setiap sisi hidupnya, segala hal yang menimpanya baik itu berupa kerugian atau keuntungan tidak akan pernah menggoyahkan keteguhan imannya kepada Allah swt, sebagai Zat yang menentukan garis hidup manusia baik di dunia dan akherat.
